“…… kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange ……. “

 

nude

 

 

“…… kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange ……. “

(sungai kehilangan lubuknya, pasar kehilangan dengungnya, Wanita kehilangan rasa malunya ……. )

 

Salam …… Kata kata bersayap tersebut diatas, dulu sering diungkapkan para dalang dalam suluk suluk (syair syair sarat makna) terutama menjelang ‘goro-goro’ (bagian klimaks dalam satu pementasan wayang yang menggambarkan kulminasi satu keadaan ‘chaos’/kekacauan) ……. Secara tekstual, kata kata tersebut juga pernah muncul dalam satu karya R.Ng. Ranggawarsita yang berjudul “Jangka Jayabaya”. R.Ng. Ranggawarsita, hidup sekitar tahun 1800-an, Beliau berprofesi sebagai pujangga Kraton Solo. Seringkali dikatakan bahwa R.Ng. Ranggawarsita adalah pujangga terakhir Jawa dengan karya karya yang berkualitas dan fenomenal …….. Bahkan dalam beberapa teks disebutkan, jauh sebelum Ranggawarsita, Kanjeng Sunan Kalijaga, salahsatu ulama terkemuka penyebar Islam di Jawa, telah berpesan dengan kata kata tersebut …….. Dulu, mungkin orang akan kesulitan menagkap makna kata-kata tersebut. Tidak usah terlalu jauh, mungkin tiga dekade (30 an tahun) lalu, orang masih meraba raba makna kata kata tersebut ……. Tapi, Subhanallah, dalam dua dekade terakhir ini, sekonyong konyong kata kata tersebut menjadi nyata secara makna maupun realita ……… Kata kata itu luar biasa sekali menurut saya……Itu lebih dari sekedar ‘ramalan’, tapi semacam visi jaman yang kian tersingkap dasar dasar empiriknya …….. Jadi, Kata kata tersebut adalah semacam ‘nubuat’ yang menggambarkan keadaan pada satu masa. Kalau kata kata itu disarikan oleh nenek moyang kita berabad lalu, bisa jadi keadaan tersebut tengah terjadi saat ini …….. Dalam redaksional di serat “Jangka Jayabaya” karya R.Ng.Ranggawarsita, kata kata itu sebenarnya rangkaiannya panjang. Beliau Ranggawarsita memang hendak mensarikan kembali apa apa yang menjadi ‘wawasan’ Sang Prabhu Jayabaya akan sebentuk jaman yang penuh kekacauan (chaos) yang disebut sebagai ‘Jaman Kalabendhu’. Akan tetapi kemudian yang akrab sebagai pengingat di batin orang orang (terutama masyarakat Jawa) adalah 3 ‘frase’ tersebut, “……mengko yen mangsane kali ilang kedunge, pasar ilang kumandhange, wong wadon ilang wirange ……. (nanti ada masanya sungai kehilangan kedungnya, pasar kehilangan dengungnya, wanita kehilangan rasa malunya …….).

Selanjutnya mari kita kaji kata kata itu satu persatu;

“……kali ilang kedunge …….. ”

(sungai kehilangan lubuk-nya)

 

Kedung atau lubuk adalah bagian dalam dari satu aliran sungai..Tentu saja dalam satu aliran yang panjang akan ada banyak lubuk. Pada satu kedung, air tergenang dalam jumlah besar, dan di dalamnya terkumpul banyak kehidupan; sudah barang tentu ikan ikan banyak terkumpul di kedung, dan satwa satwa air lainnya termasuk bulus, dsb. Selain itu, tanaman tanaman juga cenderung lebih banyak dan rindang di sekitar kedung. Bahkan, makhluk makhluk halus-pun banyak yang tinggal di sekitar kedung. Masih tersisa cerita cerita dari masa lalu bahwa kedung kedung tertentu di satu desa atau daerah tertentu memang banyak ‘penunggunya’ …….. Tentu saja manusia juga mengambil ‘manfaat’ dari keberadaan kedung; selain mengambil air, ikan, manusia juga menikmati rasa ‘damai’ berada di sekitar kedung, hingga pada masa lalu sering orang bersemedi atau bertapa di sekitar kedung. Makna kedung telah banyak diabadikan manusia, mengingat banyaknya daerah atau desa di Jawa yang menggunakan kata ‘kedung'; ….. Kedung Maron, Kedung Galar, Kedung Asem, Kedung Amba, dst (di luar Jawa ada ‘Lubuk Linggau’, ‘Lubuk Sikaping’ dst). Tetapi apa yang terjadi saat ini …… ??? Cobalah sekali waktu Anda lakukan perjalanan menyusuri atau sekedar menengok satu sungai terutama di Jawa ….. Anda akan sulit menemukan kedung seperti digambarkan pada masa lalu, dan orang orang jaman sekarang serasa kehilangan ikatan batin dengan kedung kedung …….. Iya, memang kedung kedung banyak yang ‘hilang’, sederhana saja sebabnya ; Hutan hutan banyak yang ditebang, air tidak lagi bisa diserap dan tertampung di dalam tanah lalu muncul sebagai mata air mata air yg stabil ….. Melainkan, karena tak ada lagi akar akar yang menahannya, air mengalir di permukaan tanah, menggelontor tak terkendali, membawa material material …….dan terkuburlah kedung kedung ……….. Kalau dulu, tanah menyimpan dengan baik kandungan airnya, hingga air dapat mengalir damai, setia, ajeg ……. sesekali berhenti di kedung, ‘menghidupi’ sekitarnya ………. Tapi kini, Air yang mengalir adalah air yang menggelontor dengan ‘marah’, karena ia tidak mendapat kesempatan terserap ke bumi dan memberi kehidupan atasnya.. Ia marah menjadi air bah. Pada gilirannya, setelah kedung kedung musnah, debit air sungai pun menjadi sangat berkurang, karena cadangan air tanah juga sangat berkurang ………. Dan, bayangkan perubahan yang dramatis atas alam itu tidak terjadi dalam hitungan millenium (ribuan tahun) ….. Tapi abad atau bahkan hanya dalam bilangan dekade …… Iya, berbanding lurus dengan keserakahan manusia dalam mencaplok hutan hutan dan rimba…….. Dulu orang sulit memahami ‘nubuat’ itu. ‘Bagaimana mungkin lubuk lubung sungai akan menghilang ….. ???’ Ternyata jawabanya sesederhana bagaimana manusia menuruti hawa nafsunya ………

” …… pasar ilang kumandhange ……. “

(pasar kehilangan dengungnya)

Ini juga menarik sekali …….. Pada jaman dulu, suasana pasar yang bergairah di pagi hari, suara dengung orang orang yang berkumpul di kesibukan pasar tersebut akan terdengar sampai jarak cukup jauh …….Suara yang mirip dengung kawanan lebah. Kata kata tersebut ada juga yang menggunakan istilah lain ” ……pasar ilang gumrengenge …… ” (artinya sama dengan diatas). Tidak perlu berabad lampau, waktu saya kecil saja, sekitar tahun 1980, di satu kota kecil di Jawa Timur, lamat lamat saya masih ingat bagaimana suara dengung pasar itu dari kejauhan…… Dan, anehnya, saat saya beranjak dewasa, saya tidak mendengar suara ‘kesibukan’ pasar itu, sampai dengan saya benar benar masuk ke dalamnya ……. Ayah saya almarhum juga pernah bercerita soal itu. Rumah kakek saya hanya berjarak sekian ratus meter dari suatu pasar induk. Sewaktu ayah saya muda, suara dengung kesibukan pasar tersebut terdengar jelas dari rumah kakek …….. Dan menjelang ayah saya sepuh, Beliau menyaksikan bahwa dengung kesibukan pasar tersebut tak lagi terdengar dari rumah kakek tersebut ……….. He, aneh bukan, ……Bagaimana bisa hal itu terjadi …… ??? Kalau masih kurang yakin, cobalah bertanya pada orang orang tua, terutama yang tinggal di Jawa tentang hal itu, apakah memang pada jaman dulu pasar terdengar dengungnya dari jarak cukup jauh ……. Dan, kemudian buktikan sendiri, kunjungilah sebuah pasar tradisional, dan buktikan tentang hal itu ………… Secara fakta empiris, bisa saja hal itu terjadi karena saat ini telah sangat banyak polusi suara akibat aktivitas manusia sehari hari; ribuan kendaraan bermotor, mesin mesin produksi, dengung dan suara alat alat dan instrument ini itu……dsb, sehingga suara pasar ‘tenggelam’ oleh semua itu. Tapi, ada hal yang lebih esensial dari itu; Dulu, pasar benar benar menjadi pusat kehidupan manusia di pagi hari sampai siang. Orang ke pasar tak hanya ingin membeli ini itu. Tapi juga karena ingin bertemu orang orang, bertemu teman teman, dst. Pasar selain tempat terjadinya pertukaran barang, juga tempat bertukar kabar. Orang saling bertemu, saling berbagi kabar. Pasar serupa media ‘hot news’ bagi orang orang yang saling bertemu. Saya masih ingat, seringkali sewaktu kecil saya diajak Ibu pergi ke pasar ……. entah selama di pasar itu sampai berapa kali Ibu bertemu teman teman Beliau dan kemudian menyempatkan mengobrol beberapa jenak. Belum lagi pada aktivitas jual belinya sendiri; betapa ‘gayeng’ (mengasyikannya) proses yang terjadi. Pembeli dan penjual punyabargaining yang sama. Tawar menawar terjadi dengan intens. Penjual penjualnya tak jarang pula adalah petani atau peternaknya sendiri; mereka hanya mau melepas dengan harga terbaik. Sementara pembeli juga menginginkan mendapatkan barang yang terbaik, sekaligus murah. Masih ingat pula saya sewaktu kecil, bahkan untuk mendapatkan seikat sayur yang terbaik sekaligus murah, Ibu mesti berkeliling ke beberapa pedagang ………… Demikianlah gambaran kehidupan pada masa lalu; Suasana yang tintrim (senyap) pada malam hari, dihiasi suara satwa satwa malam ……. Sementara, suasana temtram pagi hari, diwarnai dengung pasar, pusat geliat kehidupan duniawi…… Dan, hal tersebut semakin hilang pada masa sekarang ………. Tidak ada lagi dorongan untuk bertemu orang orang saat beranjak pergi ke pasar. Semua serasa dikendalikan jadwal, dalam keadaan seperti itu, kepraktisan semakin dianggap penting. Dan, saat kepraktisan kian diutamakan, seiring itu pula s u p e r m a r k e tbermunculan di sana sini. Inilah ‘pembunuh kejam’ pasar pasar tradisional. Supermarket benar benar adalah ‘silent market'; pasar tanpa dinamika, tanpa kegairahan, tanpa dengung ……….. Barang barang, bahkan seikat sayuran telah diberi banderol/label harga. Orang tak lagi menawar, karena memang juga tak lagi bergairah menawar. Di supermarket, orang cenderung ingin refreshing daripada silaturrahim. Maka tentu saja mereka tak ingin disibukkan dengan menyapa apalagi ngobrol dengan orang lain di supermarket ……… Supermarket benar benar menjadi cermin dunia yang kian mekanis; barang barang didata dan diatur secara sistematis, bahkan orang orangnya juga. Para pekerja di supermarket hanya menjalankan system yang ada, sementara para pengunjung dan pembelinya mengutamakan kepraktisan dan secuil waktu refreshing bagi hidupnya yang dikendalikan jadwal ………. Kalau pasar jaman dulu adalah tempat bertemu dan berkumpulnya orang orang merdeka (bahkan orang yang hanya punya sebatang pohon nangka di halaman, akan membawa buahnya ke pasar untuk harga yang terbaik, atau bahkan juga seorang pemancing, yang semalaman hanya mendapatkan lima ekor ikan), yang datang ke pasar seiiring cerahnya pagi, dengan harapan penuh di dada; para penjual berharap mendapat harga terbaik untuk dagangan terbaik mereka, sementara para pembeli berharap mendapat barang terbaik untuk menu terbaik keluarga. Mereka datang dengan senyum mengembang, kalaupun ada yang datang dengan cemberut, pasti kan segera hilang karena bertemu orang orang yang berarti baginya ……… Sedangkan pada pasar jaman sekarang (supermarket), orang orang menyerahkan diri pada hal hal yang mekanis dan system kapitalisme global yang mencengkeram ……Tidak ada lagi bargaining seimbang pembeli dan penjual. Para penjual di supermarket hanyalah ‘alat’ atas system yang lebih besar lagi. Sementara para pembeli kadang justru datang dengan maksud sedikit menghibur diri karena terhimpit sistem yg mengungkung hidupnya. Sementara transaksi di dalamnya terjadi dengan dingin, beku, mekanis, ……atau dengan sedikit bumbu pelayanan khas gaya sekolah kepribadian……Pasar jaman sekarang, justru menjadi tempat ‘sunyi’ ditengah kehidupan manusia yang kian gaduh ………..

 

” …… wong wadon ilang wirange …….. ”

(wanita kehilangan rasa malu-nya)

…….tak perlu banyak pembahasan atas hal ini ……..

( lima hari lima malam saya rasa kurang untuk mendata fakta kenomena ini …he….) …… soal video porno barusan aja deh; entah siapa pelakunya ……tapi kalau kemudian wanita wanita yang merasa menjadi korban itu justru mau/berani muncul di media (TV), anehnya tanpa memberi bantahan keras dan tegas (atau sebaliknya, pengakuan dan permintaa maaf) …… bahkan kabarnya ada yang mau diwawancarai media asing segala ….. Nah, lho, jadi siapa nih yang seharusnya malu ….. ??? O iya, Pak Polisi, masih banyak sekali video video porno ‘produk’ muda mudi lokal negeri ini …… Semoga Pak Polisi telaten mengusut semua itu ………. Untung saja UU Anti Pornografi sudah disahkan, semoga dengan gigih ditegakkan. Nurut saya keblinger orang orang yang berkoar anti UUAP dengan dalih kemanusiaan, hak azasi, atau (yang lebih menggelikan lagi) bahkan dengan dalih Bhinneka Tunggal Ika……. OAlah, yang ndak manusiawi itu justru mereka mereka yang membiarkan akhlak dan mental generasi muda rusak karena derasnya pengaruh buruk porno-isme. Dan, Bhinneka Tunggal Ika itu bukan urusan pakaian adat yang kelihatan bahu atau betis sekalipun. Tapi, Bhinneka Tunggal Ika yang sejati itu adalah termasuk keragaman norma dan etika suku suku bangsa di Nusantara dalam MENJAGA MARTABAT PEREMPUAN. (saya rasa saya belum perlu memberi kajian antropologis bagaimana nenek moyang kita di berbagai suku menempatkan dan menjaga figur perempuan pada posisi mulia). ………………………. Dengan membiarkan arus porno-isme dari luar negeri (entah itu paham, atau benda benda porno) justru akan menjadi perusak tragis martabat perempuan, dan dengan demikian merusak satu aspek hakiki dari Bhinneka Tunggal Ika …………. Dan tentu saja alat yang ampuh untuk itu adalah H u k u m (Undang Undang) ……. Jadi, menurut saya, goblog saja orang yang menolak UU Anti Pornografi dengan klaim bahwa mereka pembela Bhinneka Tunggal Ika (padahal mereka cuma karnaval aja dengan pakaian pakaian adat Nusantara) …………. ………………………………………………… ………………………………………………………………………….. Tapi tunggu dulu, tentu saja ini bukan soal gender (nanti saya dikritik para feminis) ; Untuk hal hal yang menyangkut harga diri, laki laki-lah yang menanggung malu ……. tapi, Untuk segala hal yang menyangkut kekerasan & kesesatan seksual seksual, wanita-lah yang banyak menanggung aib …….yang tentu akan malu jika terungkap ……. (‘kesesatan seksual’ adalah segala hal yang menyangkut seksualitas yang tidak semestinya, termasuk perselingkuhan dan zina. Harap diingat, bahwa yang potensial merusak dalam kasus video video porno itu bukan saja materi adegannya, tetapi juga menyebarnya preseden bahwa itu adalah perbuatan orang orang yang bukan suami-istri yang sah ……) Lha tapi kalau kemudian fenomena-nya kini adalah, Justru para wanita yang memancing mancing tindak kekerasan dan kesesatan seksual (mau difoto bugil, dst) …….. Lha apalagi itu kalau bukan “……wong wadon ilang wirange ……… ” Catatan penutup : Satu hal lagi yang menarik dari kata kata bersayap tersebut, Kalimat pertama (kali ilang kedunge) menggambarkan kerusakan ekologi, alam. Kalimat kedua (pasar ilang kumandange) menggambarkan kerusakan sosial ekonomi. Kalimat ketika (wong wadon ilang wirange) menggambarkan kerusakan moral & akhlak ………. dan, ketiganya, kita sadari atau tidak, kini sedang terjadi serentak …………. Jadi, Apakah kita mau larut dalam jaman yang seperti itu ……. ???

 

Jum’at, 25 Juni ’10 dari SOERABAIA terTjinta,  Salam buat semua jang terTjinta, Hendro -Keluarga RAPAT-

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s